Pulau Merah; Membasuh Kesedihan

Sore baru saja singgah di Kota Banyuwangi. Keramaian pengunjung masih berhamburan di pantai Pulau Merah, mereka seperti tidak ingin cepat beranjak, menikmati keindahan. Debur ombak terdengar begitu lirih, seolah telah lelah menjilati bibir pantai.
Di antara pasir yang menghampar di sepanjang pesisir pantai, tampak seseorang perempuan duduk sedang memandang ke tengah laut. Seolah tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Kalau kita lihat perempuan itu dengan jarak dekat. Ia memiliki rambut hitam kriting menggantung. Ada beberapa helai rambutnya berwarna kuning kemerah-merahan, tidak menggunakan lipstik, hidung pesek, juga berbau parfum. Akan tetapi kalau kita fokus melihat matanya, tampak sayu dan penuh tatapan kosong. Biasanya selalu ada kisah dramatis dibalik perempuan yang seperti itu.
Jika perempuan itu ke pantai, hanya menghabiskan untuk melamun. Kadang menangis. Kadang hanya menuliskan sesuatu di pasir lalu dihapus, begitu seterusnya.
Dalam beberapa bulan ini, perempuan itu memang rutin mengunjungi pantai Pulau Merah, kadang seminggu empat kali, kadang seminggu hanya satu kali, kemudian duduk sendirian mematung di pinggir pantai.
Apakah perempuan itu sedang patah hati? Ia menjalin hubungan dengan kekasihnya kemudian ditinggalkan. Atau tidak mendapat restu kedua orang tua. Atau kekasihnya berselingkuh dengan kekasih lain. Seperti banyaknya kasus perceraian suami istri yang banyak disebabkan karena perselingkuhan. Atau mungkin hanya ingin mengenang kekasihnya saja, ketika pantai ini pernah menjadi tempat dan saksi awal kisah perempuan itu.
Atau bisa jadi, perempuan itu sedang mengalami hal-hal berat menjalani kehidupan ini. Misalnya sedang risau karena tidak mampu lagi menanggung kebutuhan hidup sehari-hari seperti orang-orang pelosok desa yang jarang diperhatikan kesejahteraannya oleh pemerintah. Atau perempuan itu seorang yang sedang merantau ke kota di ujung timur Pulau Jawa untuk kuliah dan mengalami frustasi karena banyak tugas yang diberikan dosen dan mahasiswanya diperlakukan layaknya robot.
Dari dugaan-dugaan seperti yang diceritakan sebelum kalimat ini, bisa jadi perempuan itu bercerita dan mendapat saran dari teman-temannya untuk mengunjungi pantai Pulau Merah. Mungkin ia mendapat saran begini dari temannya.
“Datanglah ke pantai Pulau Merah, Nalita! Mungkin pantai itu akan menjadi jawaban atas segala kegalauan. Dengan berbagai lembaran ombak, pantai itu siap menggulung kesedihanmu. Siapa tahu juga, kamu akan bertemu jodoh yang perhatian dan bertanggung jawab.”
“Boleh juga. Baiklah, akan aku coba.”
“Untuk beberapa minggu ke depan, aku sangat sibuk. Lain waktu, aku siap menemanimu.”
“Terima kasih.”
Pada akhirnya perempuan itu langsung percaya. Kemudian perempuan yang dipanggil Nalita seperti begitu lega mendapat solusi dari temannya. Dan hari-hari berikutnya, ia rutin mengunjungi pantai Pulau Merah, terutama menjelang senja. Benarkah pantai Pulau Merah mampu membasuh kesedihan?
###
Perempuan itu benar-benar menemukan tempat yang memahami perasaannya. Buktinya ia masih rutin datang ke pantai ini. Apa mungkin mengatasi kesedihan juga butuh proses? Sehingga ia harus berhari-hari ke pantai Pulau Merah.
Tentu, perempuan itu datang ke sana mempunyai alasan yang berbeda dengan pengunjung lainnya. Kalau pengunjung lain, mungkin mempunyai alasan begini; ada yang penasaran dengan tanah yang katanya merah, ada yang penasaran dengan bukit kecil yang diselimuti pohon yang hijau, ada yang hanya ingin menciptakan kenangan bersama kekasihnya, ada yang hanya menikmati waktu luar bersama keluarga, ada yang hanya untuk mencari nafkah, ada yang memang petugas di sana, ada yang hanya menikamati segala keindahan dan fasilitas apa saja yang berada di sana.
"Coba lihat tuh! Sepertinya ada orang menangis."
" Mungkin hobinya menangis."
"Kenapa dia ya? Kasihan."
“Ah, kamu seperti tidak pernah menangis saja. Katanya, menangis itu ibadah.”
“Ibadah pada kesedihan?”
"Sudahlah, tak perlu sibuk dengan urusan orang lain. Yuk kita selfie lagi!"
Ada beberapa pengunjung yang memang sering membicarakan perempuan itu. Bahkan berganti-ganti. Akan tetapi obrolan-obrolan kecil pengunjung tidak pernah hinggap di telinga perempuan itu. Ada juga beberapa pemuda yang mencoba berkenalan, tapi semuanya ia tolak. Ia juga tidak pernah banyak bicara dengan orang asing yang tidak dikenalnya.
Bahkan penjaga tiket wisata ini pun sudah kenal wajah tapi tidak mengetahui nama perempuan itu. Dan mereka hanya saling sapa saja. Tidak lebih. Pernah suatu hari perempuan itu lupa tidak membawa uang. Akan tetapi ia tetap diperbolehkan masuk secara gratis. Mungkin penjaga itu ingin mengambil hati, nantinya akan mudah untuk diajak berkenalan atau mungkin benar-benar memang karena kasihan.
Memang, segala sesuatu pasti ada akhirnya. Perempuan itu yakin, setiap kesedihan yang dialaminya pasti berlalu. Namun perempuan ini tidak melakukan cara dengan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Seperti lompat ke sungai, mengerat tangan, minum racun, menusuk perutnya dengan pisau, memakai narkoba dan gantung diri dengan menggunakan tampar atau menggunakan benang jahit. Sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya.
Pada suatu hari, ia datang bersama sahabatnya. Mungkin sahabatnya itu yang paling mengerti dan mengetahui apa yang dialami perempuan itu. Kita tidak boleh mencuri obrolan mereka, mungkin ada sesuatu yang sifatnya pribadi. Lebih baik, kita amati mereka dari tengah laut saja. Wah, mereka tampak kecil. Sambil menunggu mereka curhat, bagaimana kalau kita mandi sambil berenang. Atau menyelam sambil melihat beberapa ikan. Tapi kalau tidak cepat-cepat menguping obrolan mereka nanti malah kita sendiri yang penasaran. Tapi kalau kita dekati sepertinya sudah telat, kayaknya mereka asik bercanda.  Atau begini saja, anggap saja sahabatnya memulai percakapan seperti.
“Untuk melupakan mantan kekasih, tinggal buang fotonya ke tengah lautan ini.”
“Kalau tidak punya?”
“Ya buang pemberiannya.”
“Kamu ada-ada saja. Mana bisa aku melupakannya? Sementara aku masih mempunyai ingatan dan kenangan yang sewaktu-waktu datang bersamaan.”
“Serius amat kamu, Nalita. Ya nggak, nanti malah mengotori pantai ini."
Tapi Nalita, merasa perlu juga mencoba ucapan sahabatnya. Siapa tahu berhasil mengatasi segala kesedihannya.
###
Suatu waktu di musim hujan. Perempuan itu tidak lagi menampakkan sosoknya kala sore di pantai Pulau Merah. Tidak ada yang tahu beberapa hari, bulan, tahun ke depan perempuan itu akan kembali ke sana atau tidak. Tidak ada yang tahu juga, apakah perempuan itu akan merindukan pantai itu atau justru pantai Pulau Merah yang rindu kepada Perempuan itu.
Semenjak terakhir ia singgah di sana ketika hujan telah reda. Perempuan itu mengabadikan dirinya bersama pantai, kemudian pergi. Tapi sejak itu pula, ada perempuan lain yang seolah ingin menghilangkan kesedihan juga. Dan perempuan baru itu mungkin mandul. Buktinya perempuan baru itu tampak bahagia, penuh dengan senyuman ketika  menemukan bayi yang masih hidup, sedang mengambang di pinggir pantai.[]


Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar