Cerpen - Menunggu yang Menyenangkan

Dimuat di Radar Banyuwangi, edisi Minggu, 16 April 2017.
Oleh Moh. Imron
Aku mengamati deretan kursi panjang sebanyak 6 baris. Tiba-tiba mataku langsung tertuju pada perempuan yang duduk di deretan belakang tampak melamun. Apalagi pakaiannya begitu mencolok dan bibir dihiasi warna lipstik. Aku Melirik sejenak pada kursi lain yang sudah penuh dengan orang-orang, kecuali deratan belakang yang hanya ditempati seorang perempuan.

Di antara keramain antrian di ruang tunggu pelayanan sebuah instansi kependudukan, semua orang tampak sibuk dengan gadget masing-masing. Mereka memainkan ibu jarinya. Memang, menunggu memang hal yang membosankan sehingga mereka menyibukkan diri, mungkin ada yang berselancar di dunia maya, mungkin sibuk dengan game dan saling kirim pesan dengan temannya. Sesekali ada yang tersenyun sendiri. Ada pula yang berbincang dengan orang di sampingnya. Kalau aku sendiri terjebak dalam kegiatan menunggu apa saja, biasanya lebih suka melamun, berkhayal, berimajinasi, atau mengenang kejadian-kejadian yang telah dilewati. Itu menyenangkan. Kecuali menunggu untuk balikan sama mantan kekasih.
Aku melangkah ke kursi panjang di belakang yang bersandar pada gedung. Sebelum duduk, aku sempat melirik lagi perempuan yang duduk di kursi ujung selatan. Sepertinya perempuan itu memilih melamun. Aku pun duduk di ujung kursi utara.
Aku melihat kembali nomer antrianku. Lalu menyocokkan dengan nomor digital yang berwarna merah di atas tempat petugas. Rupanya giliranku masih tinggal 27 antrian. Itu artinya, aku harus menunggu sekitar 3 jam. Maklum, aku datang telat.
Aku kembali mengamati perempuan itu yang seperti mematung. Rambutnya hitam di atas bahu. Sepertinya kulitnya halus. Pakaiannya juga ketat.  Begitu pun roknya yang sejajar lutut. Tangannya memegang nomor antrian. Di sebelah kirinya ada tas besar, juga menyembul seperti tumpukan map.
Untuk sementara cerita tentang perempuan itu, aku alihkan dulu.
"Permisi, Mas." Ucap lelaki yang bersama istrinya. Seolah mengisyaratkanku untuk bergeser.
"Iya. Pak," aku bergeser ke kiri.
Kemudian ada lagi yang ingin duduk di kursi deretan paling belakang. Aku pun kembali bergeser lagi. Apalagi jarak kursi yang aku duduki dengan kursi depan sangat sempit.
Jarakku dengan perempuan itu semakin dekat. Aku berada di tengah-tengah kursi panjang.
"Lagi mau ngurus apa, Mas?"
"Ini, Pak. Mau buat surat pindah. Habis itu mau buat KK dan KTP," jawabku. "Sampean?" Lanjutku.
"Mau buat akte kelahiran. Sebenarnya sudah kemarin datang ke sini. Tapi ada beberapa persyaratan yang belum lengkap."
Sebenarnya aku ingin mengalihkan cerita pada perempuan itu. Tapi kasihan juga kalau obrolannya bapak ini dilupakan begitu saja. Jadi intinya begini, bapak itu bilang kalau tertib administrasi penduduk itu memang penting tapi prosesnya ribet. Terus pindah tempat tinggal atau status juga berpengaruh pada segalanya. Prosesnya selalu mempersulit.
Beberapa teman ada yang menyarakan untuk menemui makelar, akan tetapi aku malas untuk mengeluarkan uang lagi. Aku memilih datang sendiri. Aku pernah mendengar, kalau pemerintah sedang menerapkan program smart city yang sudah masuk di berbagai instansi. Jika sebuah teknologi mampu menyelesaikan pelayanan yang lebih cepat dan biaya sangat efisien, maka bisa dikatakan cerdas.
Kembali suara mesin memanggil nomer antrian. Para pelanggan yang merasa cocok nomer antriannya kembali menghampiri petugas di depan.
Beberapa menit kemudian, aku harus bergeser. Ada tambahan antrian yang ingin duduk di deretan kursi ini. Aku makin dekat. Kalau langsung pindah ke samping perempuan itu, gak enak saja. Aku penasaran sama namanya.
Perempuan itu tiba-tiba menangis. Tapi dia cepat menghapusnya dan tak ada orang lain yang sempat melihatnya. Berarti perempuan itu lagi ingat sesuatu. Galau.
Mungkin begini.
Pada suatu malam suaminya selalu telat pulang hingga larut malam. Tidak seperti biasanya. Perempuan itu merasa kesepian, jarang ada adegan di atas ranjang lagi. Terus perempuan itu mulai khawatir dan curiga.
"Kamu kok selalu pulang larut malam, Mas?' Tanya perempuan itu dengan nada meninggi. "Anak kita gak ada yang ngurus," lanjutnya.
Kemudian si suami menjawab begini. "Aku lembur di kantor."
Si perempuan hanya diam, penuh kesal seakan tidak percaya pada ucapan suaminya.
Pada suatu waktu perempuan itu pun mengikutinya. Perempuan itu merasa bukan lagi menjadi alasan utama kepulangan suaminya. Perempuan itu mendapati suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Maka terjadilah pertengkaran yang menyebabkan penceraian. Hingga perempuan itu berada di ruangan ini untuk mengurusi surat-surat.
Mungkin cerita seperti itu terlalu kurang dramatis, ya? Aku ralat.
Mungkin begini.
Perempuan itu bosan pada suaminya yang penghasilannya pas-pasan. Kehidupan suaminya begitu monoton. Beberapa kali perempuan itu minta cerai. Akan tetapi suaminya selalu mampu meredam permasalahan istrinya. Perempuan itu memaksa sehingga suaminya pun menuruti dengan terpaksa. Suaminya hanya meminta syarat untuk bertemu di sebuah cafe. Setelah itu, akan terkabul semua keingin perempuan itu.
Suaminya datang terlebih dahulu di sebuah cafe. Ia memesan sebuah roti dan teh hangat. Tak lama kemudian perempuan itu datang. Dan berpelukan untuk yang terakhir.
"Silahkan duduk," kata suaminya.
"Sepertinya pemandangan di sini tidak asing."
"Kamu masih ingat? Sebelum dibangun cafe dulu ini warung pinggiran yang tidak beraspal, persawahan dan banyak pepohonan. Sekarang sudah tergantikan gedung-gedung bertingkat,” si suami menjelaskan. “Ini surat penceraian, sudah aku tanda tangani,” lanjutnya. Dan suami itu memakaikan sebuah jaket warna merah pada istrinya dan langsung pergi dari cafe.
Tiba-tiba perempuan itu teringat ketika masih muda. Saat ia ditinggal pacarnya di tempat yang tidak dikenal. Ia takut, terlebih hujan begitu deras yang membuat dingin dan basah kuyup. Ia duduk di bawah pohon, menangisi kejadian ketika pacarnya menodai dirinya. Kemudian ada seseorang lelaki yang menolongnya. Memberikan secangkir teh hangat dan memakaikan jaket warna merah. Hingga pemuda itu menjadi suaminya yang menerima kepahitan masa lalu hingga sekarang.
Pada akhirnya perempuan itu keluar dari cafe mencoba mengejar suaminya kembali. Akan tetapi sosok suaminya sudah lenyap. Ia benar-benar bercerai. Dan mewarnai kasus pencerain yang semakin meningkat di kota ini. Hingga akhirnya, ia berada di tempat ini mengurusi surat-surat.
***
Tak terasa giliranku tinggal 10 lagi. Aku bergeser lagi, sebab ada orang lain yang ingin duduk.
Aku sudah dekat dengan perempuan itu. Bau parfumnya menggoda. Aku sempat menghirup dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Yang tadinya AC begitu dingin seolah tidak mempan padaku.
Mungkin perempuan itu juga lelah duduk. Kaki kanannya dinaikkan ke kaki kirinya. Tampak bersilang. Ingin sekali menjatuhkan ballpoint seperti waktu SMA dulu, sayangnya tempatnya sempit.
Perempuan itu sibuk menata berkas. Mungkin habis ini adalah gilirannya. Sempat aku melihat sebuah kertas yang merupakan surat keterangan kematian. Tanggalnya seminggu yang lalu. Mungkin salah satu keluarganya sedang meninggal. Apa dia benar-benar berduka? Itu sebabnya tadi sempat menangis. Duh. Sungguh memang berat ditinggal pergi seseorang yang disayang untuk selamanya.
Ternyata benar. Berikutnya giliran perempuan di sampingku. Ia berajak ke meja petugas. Aku hanya memandangi tubuhnya dari belakang. Aku masih mengamati perempuan itu yang tengah sibuk dengan petugas. Beberapa orang juga sempat memperhatikan juga.
“Benar-benar, menggoda,” gumamku dalam hati.
Setelah selesai perempuan itu beranjak keluar. Sepertinya aku tidak akan bisa berkenalan dengan perempuan itu.

Suara panggilan nomer antrian terdengar. Ini giliranku. Aku siap-siap beranjak pada petugas. Sesat kulihat di tempat duduk perempuan itu terdapat sebuah KTP. Aku mengambilnya. Apakah KTP ini milik perempuan itu? Kulihat fotonya sama persis. Tapi jenis kelaminnya laki-laki. Oh…. []

Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar