Cerpen - Hutan Lindung

Dimuat di Radar Banyuwangi, edisi Minggu, 2 April 2017

Aku sendiri tapi tak sendiri.
Di hutan lereng bukit, ada sebatang pohon yang patah, separuh batangnya roboh tetapi tidak sampai menyentuh tanah. Terlihat menjuntai di atas sungai, daunnya agak kecoklatan. Pohon itu tidak mati, masih bertahan hidup sejak beberapa ratus tahun yang lalu.
Di sebelahnya ada batu memanjang, tempat kesukaan sahabatku, Purmita. Setiap aku menemui Purmita.Ia selalu memilih tempat itu karena tempatnya teduh, sambil menikmati suara gemercik air sungai yang bermuara di sudut mata. Ia suka sekali berada di sana. Seolah menggambarkan suasana hatinya yang patah, tetapi mencoba bertahan.
Suatu waktu Purmita pernah memintaku untuk memotretnya. Sebab ia ingin melihat dirinya dalam sebuah foto, seperti orang-orang lain yang menjadikan hutan ini sebagai latar untuk foto prewedding dan selfie. Beberapa kali aku menjelaskan bahwa hal itu tidak mungkin bisa, malah menimbulkan masalah. Ia memaksaku. Aku mengalah. Aku mengikuti permintaanya.
Aku berencana datang sesuai janji yang telah disepakati sebelumnya. Sepanjang perjalanan motorku mogok. Pertemuan itu gagal. Aku datang lagi esok harinya. Tapi Purmita tidak ada di rumahnya. Apa mungkin sahabatku marah? Bahkan sudah sebelas kali aku mendatangi tempat tinggalnya untuk memenuhi janji dan meminta maaf. Tapi semuanya sia-sia.
Terus terang, aku tidak yakin penyebab utama adalah soal foto. Sebab tidak biasanya Purmita sulit ditemui. Biasanya dia sendiri yang lebih dulu menemuiku. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya, pikirku.
Aku kenal Purmita sudah enam tahun lalu. Awalnya aku diperkenalkan oleh sahabat SMA-ku, Sarah. Setelah lulus, Sarah melanjutkan SMA di luar Jawa. Ia memintaku untuk menjadi sahabat Purmita.
Setelah kenal, aku dan Purmita sempat mengantar kepergian Sarah di terminal.
“Jaga Purmita baik-baik! Hanya kamu yang mungkin bisa menjadi sahabat untuk berbagi curahan hatinya,” pesan Sarah seraya memelukku.
Aku ingat saat itu Purmita berkaca-kaca. Ia sedih. Aku menghiburnya. Hari berikutnya, aku mulai bertukar kabar. Tanpa segan-segan Purmita juga banyak bercerita perihal dirinya. Begitu pun sebaliknya. Aku banyak menerima curahan hatinya. Kami cepat akrab. Seringkali dia kuajak nongkrong di pantai, menonton musik, kadang kuajak main ke rumah. Sewaktu-sewaktu kadang diminta pendapat ketika aku tidak mampu mengerjakan tugas-tugas kuliah atau soal asmara. Atau menemaniku menonton serial Game of Thrones setiap pertengahan tahun.
Purmita juga pernah memberikan benda-benda pusaka keluarganya dan peninggalan orang terdahulu dengan cara ikut menemani dan memintaku untuk menggali tanah yang tersembunyi di salah satu daerah. Kadang aku menandainya dengan koordinat melalui GPS. Seperti patung Dewi Rengganis dan banyak lainnya yang tidak bisa aku ceritakan.
Pagi ini matahari mengintip di balik dedaunan. Aku menapaki setapak yang penuh tumpukan daun kering. Aku masih berusaha menemukannya. Setelah aku tahu di rumahnya masih kosong. Aku duduk di sebuah batu dekat dengan pohon yang patah.
“Pohon boleh patah. Hati jangan!” Sesekali teringat ucapnya beberapa waktu lalu, ketika aku galau.
Aku memutuskan untuk menunggu. Aku berharap barangkali siang atau sore ia akan datang. Ternyata setelah lama menunggu tetap saja tidak ada. Hanya orang-orang yang menikmati kesejukan dan keindahan Hutan Lindung yang datang silih berganti.
Apa mungkin ia punya sahabat baru? Tiba-tiba terlintas dipikiranku. Aku rindu canda tawanya. Ia perempuan yang sangat baik, lucu dan juga menggemaskan. Dan yang paling penting ia juga perempuan yang sangat penyabar. Ia begitu berarti bagiku.
Aku juga berharap kepada siapa pun yang bertemu dengannya untuk tidak menyakitinya. Ia sering dibenci oleh orang-orang. Ia mempunyai ciri bermata sipit, rambut panjang dan kriting menggantung. Ia juga murah senyum. Biasanya sering memakai baju cokelat lusuh. Dan mungkin aku akan bersyukur jika ada orang lain yang bersedia menjadi sahabatnya. Itu tidak masalah bagiku.
Akan kuceritakan kepada kalian. Tentang sedikit perempuan itu. Seperti yang ia ceritakan waktu curhat tempat ini. Barangkali setelah itu ada yang mau melindungi atau menjaganya jika bertemu dengannya.
***
Nama lengkapku Purmita Sari. Aku sering dipanggil Purmita.
Aku dan tunanganku sudah merencanakan sebuah pernikahan. Tunanganku begitu bersemangat menabung uang untuk biaya selamatan. Meskipun hanya sebagai seorang buruh tani. Gajinya tidak seberapa, hanya cukup untuk dimakan sehari. Bahkan ia rela mengurangi jatah makan. Ia juga lelaki yang sangat bertanggung jawab. Keluarganya menerima keadaanku meskipun kedua orang tuaku sudah mangkat.
Seringkali aku mengirimi bekal ketika bekerja telah sampai paruh waktu. Aku bangga dengannya.
Dua bulan sebelum acara pernikahan yang telah direncanakan, aku mulai ragu pernikahan ini akan berlangsung. Apalagi tunanganku berhenti kerja sebab majikannya terdesak dengan ancaman orang-orang yang harus dipatuhi dan tidak menerima pekerja lagi. Dan aku tidak tahu urusan mereka.
Tak lama kemudian tunanganku meminta izin untuk pamit bekerja. Ia mendapat tawaran pekerjaan dari orang-orang yang berseragam. Katanya, ia akan mendapat gaji yang lumayan besar. Aku tidak bisa menghalangi meskipun ada sedikit kecemasan.
Dugaanku tidak meleset. Aku tidak bisa berbuat apa-apa termasuk kedua orang tuanya. Dari berita yang tersebar, tunanganku menjadi salah satu pekerja paksa. Tidak mungkin aku melawan orang-orang berseragam yang memegang senjata. Atau kalau tidak akan mengalami hal seperti tetanggaku yang mati mengenaskan.
Hari pernikahan yang dinantikan telah tiba. Tunanganku akhirnya pulang juga. Wajahnya pucat, ia seperti kurang makan. Terdapat beberapa luka di tangan, lebam di leher dan pelipis mata. Pakaiannya berantakan. Kotor. Tapi yang jelas ia tidak membawa uang sepeser pun. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku pun tidak menanyakannya. Mungkin bukan waktu yang tepat.
Pesta pernikahan pun digelar dengan sederhana meskipun ditunda, tidak sesuai yang direncanakan. Tunanganku juga mengundang hiburan gamelan dan tari. Aku begitu suka dengan hiburan itu. Pada awalnya aku tidak menuntut banyak pada tunanganku untuk menghadirkan hiburan itu. Akan tetapi ia begitu paham dengan hatiku.
"Kau beruntung sekali punya istri seperti Purmita. Dia sangat cantik." Aku mendengar ucapan sahabat suamiku setelah mengucapkan selamat diacara pesta. Malam itu menjadi hari yang indah.
Dua hari sejak acara pesta pernikahan, suamiku tidak menyentuhku sama sekali meskipun sudah tidur seranjang. Padahal beberapa malam berlalu aku berharap banyak pada suami untuk mencumbuku. Dulu, ia juga berjanji menghadirkan seorang anak berapapun yang aku mau.
"Apa yang membuat Kakang sedih?" Aku memberanikan diri bertanya ketika mendapati suamiku murung di ruang tamu. Sebenarnya aku sudah menduga penyebabnya adalah orang yang berseragam itu. Yang aku dengar dari penduduk, mereka sedang membangun jalan raya dari Jawa Barat hingga ke daerah ini.
"Maafkan Kakang ya, Dik. Pikiranku masih kacau. Aku masih kejadian kemarin.”
Aku tidak banyak bicara lagi. Yang penting suami selamat. Di saat seperti itu, aku sering menghiburnya.
Aku pernah mendengar kabar bahwa banyak sebagian penduduk ditawari kerja yang menggiurkan.Tapi kenyataannya adalah kerja berat yang menyengsarakan penduduk. Banyak yang jatuh sakit, bahkan ada yang mati. Mungkin suamiku sedikit trauma. Aku harus bersabar sedikit sampai suamiku menyelesaikan kegundahannya.
Suatu sore suamiku memintaku untuk mengungsi ke hutan. Entah apa yang terjadi pada hari itu. Pikiranku penuh pertanyaan.
“Keadaan sekarang tidak aman,” tegas suamiku.
Aku dibawa ke hutan juga bersama keluarganya dan beberapa penduduk yang lain serta membawa kebutuhan pokok dan barang lain yang dibutuhkan. Suamiku memintaku untuk jangan keluar dari tempat ini sebelum ia datang. Hutan ini seperti tempat persembunyian. Juga ada tempat untuk beristirahat. Dari beberapa penduduk mereka mengatakan bahwa suamiku dan beberapa orang lain ingin menentangnya. Entah bagaimana caranya.
Hari-hari berlalu, suamiku tidak menampakkan batang hidungnya. Begitu juga dengan penduduk yang ikut bersama suamiku. Aku begitu khawatir. Pasti sedang terjadi sesuatu dengannya. Aku memberanikan keluar dari hutan. Apalagi makanan yang tersedia sudah habis. Kami kelaparan.
Aku datang jauh-jauh dengan berjalan kaki. Aku memberanikan bertanya pada orang berseragam yang begitu banyak di dekat Pelabuhan Panarukan. Orang berseragam membantuku meskipun kesulitan berbahasa akan tetapi ia cukup paham. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Orang-orang berseragam membawaku pada sebuah gedung. Aku mencoba menolak, perasaanku tidak enak. Beberapa mereka memaksaku ke sebuah kamar. Aku meronta sekuat tenaga. Aku tidak cukup melawan, tiba-tiba ada 5 orang dari mereka mendekapku.
Di sebuah ruangan. Mereka melucuti pakaianku. Sesekali aku meronta dengan keras. Beberapa kali dari mereka menamparku. Seketika tertawa penuh kemenangan. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku menyesal tidak mengikuti perkataan suamiku. Jika tahu seperti ini lebih baik aku mati dengan kelaparan. Mereka tidak menghiraukan meskipun kadang aku menangis. Aku pasrah.
Mereka memberiku makanan sisa-sisa. Mungkin sudah sekitar 9 hari, aku menjadi pelampian nafsu mereka. Badanku remuk. Beberapa anggota tubuhku lebam. Tubuhku lunglai. Mungkin wajahku juga pucat. Aku jatuh sakit. Mereka melepaskanku. Mendorongku ke halaman gedung. Aku tersungkur. Dengan tenaga yang tersisa, aku kembali pada hutan. Aku benar-benar mengutuk diriku.
Memasuki tempat persembunyian, aku melihat beberapa mayat bergelatakan. Bau anyir darah menyeruak. Aku tidak tahu siapa yang membunuhnya. Aku pingsan tidak sadarkan diri. Tak ada orang yang menolong. Aku masih ingat bagaimana kondisi saat terakhir nyawaku akan pergi dengan mendekap luka di hati. Aku benar-benar pergi ke dunia yang baru.
Selang beberapa hari suamiku datang. Ia memeluk tubuhku yang tak bernyawa. Kulihat matanya menangis. Ia mengamati bagian tubuhku yang lebam. Ia juga paham maksud dari beberapa pakaiaku yang robek.
Entah kenapa suamiku menyetubuhi tubuhku saat menjadi mayat. Dugaanku ia hanya memenuhi janjinya padaku beberapa waktu lalu. Kemudian ia menguburku dan juga mayat yang lain. Ia berniat membalas dendam. Begitu ucapnya ketika telah selesai menguburku. Terus terang, aku tidak yakin akan berhasil. Tapi aku bangga memilikinya. Sejak itu, suamiku tak pernah kembali lagi menemui kuburanku. Aku kesepian.
***
Begitulah salah satu kisah Purmita di masa lalunya.
Ketika matahari mulai terlelap di kaki langit. Aku pun bangkit dari batu besar. Di sinilah terakhir, kulihat sosoknya yang hadir seperti hologram. Aku memandangi pohon yang patah, semoga hatiku tidak pernah patah jika Purmita pergi. Aku melangkah menjauh dari rumah Purmita di Hutan Lindung. Namun sebelumnya aku bertemu dengan beberapa orang yang datang ke tempat ini. Mereka seperti paranormal. Aku mencuri obrolannya.
"Tempat di sini bersemayam mahluk halus. Sekarang sudah tidak ada. Dan bulan depan sudah boleh dimulai pembangunan gedung barunya," ujarnya. Lalu salah satu dari mereka membakar kemenyan.

Aku langsung pergi. Aku sendiri dan benar-benar sendiri. ||

Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar