Belajar Mencintai Buku

Pilih e-book atau buku?
Maka saya akan jawab; pilih mantan.
Pertanyaan ini pernah saya temui di grup-grup literasi facebook. Nyaris semua jawabannya adalah buku. Membaca e-book (Buku elektronik atau digital) bikin sakit mata, dan banyak  alasan lainnya.
Saya orang yang malas membaca buku kecuali terpaksa, misal ada tugas ketika masih sekolah atau kuliah dan mengikuti pelajaran tertentu. Mungkin karena tak ada faktor eksternal yang memotivasi saya untuk senang membaca. Sebab saya lahir dari kampung. Semua keluarga saya tidak ada yang suka membaca. Saya tidak dikenalkan pada dunia buku-buku. Paling cuma keluarga saya bilang “Jangan lupa belajar.” Jadi waktu kecil saya belajarnya ketika ada PR saja, atau ketika mau ulangan.
Begitu pula ketika SMP, SMA, hingga hampir lulus kuliah, tidak jauh beda seperti yang dulu. Kenyataannya memang tidak ada faktor eksternal yang membuat saya tertarik untuk suka baca buku. Misalnya ada teman yang ngajak saya untuk baca buku dan lain-lainnya. Apalagi faktor internal memang sudah tidak suka baca buku. Kalau baca perasaan, itu favoritku.
Dalam 2 tahun terakhir ini tepatnya pada awal tahun 2014, saya mulai menyukai cerita-cerita pendek. Sejak akhir tahun 2011, saat itu saya sebagai operator warnet. Kerjaannya ya main game, belajar desain grafis, edit video, download dan nonton film serta serial tv. Pada akhirnya saya pun mulai suka baca cerita-cerita sedih di internet. Bosen juga lihat film atau serial tv. Misalnya seperti judul cerpen, Aku Terpaksa Menikahinya.
Kemudian saya kenal dengan Komunitas Penulis Muda Situbondo di facebook. Entah kenapa saya ingin sekali bergabung. Meskipun sendirian saya pun hadir ke base camp-nya yaitu di Rumah Baca Damar Aksara Kampung Langai, Desa Sumberkolak Kecamatan Panarukan. Mungkin salah satu cara ya tertarik membaca ialah karena baca cerita-cerita pendek. Dan saya pun juga tertarik suatu hari saya bisa menceritakan pengalaman pribadi. Teruta ketika ditinggal kekasih.
Dari komunitas itu, saya juga banyak kenal dengan beberapa penulis Situbondo. Seperti Detha, Mas Lutfi, Ardy, Zaidi, Yudik, Sufi, Joko, Sungging Raga, Raisa, Trisno, Uwan Urwan, Lyla, Raisa dan banyak penulis lainnya yang tidak bisa disebutkan semuanya. Dan saya mendapat banyak pelajaran. Intinya adalah saya harus rajin membaca dan menulis apa saja yang disukai. Saya mulai dikelilingi orang-orang yang suka baca buku dan menulis. Lantas itu semua tidak membuat saya senang membaca buku. Meskipun saya sering pinjam buku di rumah baca, saya tidak pernah hatam.
Terkadang saya iri melihat teman saya sering beli-beli buku, mau pinjam pun tidak enak. Apalagi ketika teman-teman berbicara buku, biasanya saya ketinggalan. Dari yang saya amati beberapa penulis yang terkenal pasti ada banyak buku yang ia baca. Saya selalu memendam untuk menjadi penulis yang sukses. Saya hanya ingin menulis yang saya sukai saja meskipun hanya sebuah status.
Sampai saat ini, saya hanya beli 1 buku dari uang pribadi, kecuali buku-buku pelajaran, itu karena kewajiban. Buku yang saya beli adalah novel Sherlock Holmes kebetulan di Situbondo ada bazar buku pada bulan Agustus 2015. Sebab saya selalu mengikuti film dan serial tv Sherlock Holmes itu sebabnya saya juga penasaran dengan versi buku. Buku itu sekarang ada di rumah baca Damar Aksara.
Sebenarnya saya juga ingin beli-beli buku, tapi saya masih bermasalah dengan kondisi ekonomi. Saya tidak bisa menyisihkan uang atau menabung. Apalagi pemasukan saya tidak sebesar pengeluaran. Bisa baca di sini. Kalau menabung kenangan, itu wajib. Saya kadang sedih tidak bisa membeli buku yang saya inginkan. Jadi saya hanya sering baca-baca di internet. Salah satu novel favorit saya adalah Dia Dia Dia Sempurna. Novel yang romantis yang sangat menginspirasi. Saya membacanya di kaskus sebanyak 71 episode. Novel diangkat dari kisah nyata. Ceritanya natural, banyak typo, tata bahasa masih kurang sebab tanpa sentuhan editor. Itu sebabnya saya tidak pernah bosan, jadi novel itu sangat merdeka tanpa aturan bagaimana membuat opening, konflik, bagaimana latarnya dll. Kadang saya juga baca-baca cerpen di koran nasional, essai, dan bacaan yang bermanfaat lainnya. Sebab kehidpuan saya berada di depan layar komputer. Kadang juga mengoleksi tulisan pdf di HP. Ketika kesepian saya mengibur diri dengan membaca e-book, tapi yang sesuai dengan kebutuhan, tidak sembarangan mengoleksi. Misalnya jika saya ingin beternak ayam, akan baca yang berhubungan beternak ayam.
Pada awal 2016, teman-teman komunitas mulai menggelar lesahan baca di alun-alun Situbondo setiap malam minggu. Meskipun saya tidak terlalu membaca buku, tapi saya sadar, bahwa membaca itu sangat penting, selalu ada pengetahuan baru di dalamnya.
Lesehan baca pertama kali hanya menggelar 9 buku. Itu pun buku pelajaran dan sebagian pinjam. Lalu  meminta bantuan ke teman-teman penulis yang lain. Akhirnya lumayan banyak. Beberapa penyumbang dari luar kota juga banyak. Sekitar 6 bulan koleksi buku sudah lebih dari seratus. Terima kasih kepada semua penyumbang.
Dari sini, saya mulai menyemangati diri untuk terus membaca meskipun jarang ada buku yang baru. Jadi kegiatan itu semacam tongkrongan untuk silaturrahmi bersama teman-teman. Bisa sharing atau diskusi buku-buku dan menulis, intinya saling berbagi. Apalagi setiap malam minggu alun-alun sering disinggahi beberapa teman komunitas yang lain, dan juga cewek-cewek meskipun Cuma lewat. Jadi tujuannya yang paling utama mengajak teman-teman untuk membaca. Barangkali ada yang termotivasi. Atau barangkali sepanjang hidupnya belum tersentuh oleh buku-buku seperti yang saya alami waktu dulu. Dengan adanya kegiatan ini siapa tahu ada yang senang membaca. Jadi kita bisa belajar bersama-sama. Dan hasilnya banyak juga teman-teman yang pinjam. Kadang saya merasa ada kepuasan di sana ketika ada yang pinjam buku. Setelah selesai ia bercerita tentang buku yang harus dibaca. Bahkan juga bertemu dengan orang-orang yamg juga suka menulis dan membaca.
Terima kasih buat teman-teman Situbondo Breakin yang sering membantu dan juga Si Ponsel, Slanker Situbondo wabil khusus buat Zaidi dan Yudik dan semua pihak lainnya.
Pada akhir Januari 2016 saya kenal dengan Sofyan, ia adalah koordinator Gerakan Situbondo Membaca. Kegiatan utamanya ialah review buku. Saya sangat senang sekali dengan kehadiran GSM. Satidaknya bisa mewarnai literasi di Kota Situbondo. KPMS dan GSM sering nongkrong baik di lesahan baca, rumah baca, tempat lain dan mengadakan kegiatan bersama dengan swadaya. Sebenarnya masih banyak pegiat-pegiatan lainnya. Semoga saja di lain waktu bisa bersua.
Sampai di sini dulu, ini belum selesai. Sepeti halnya dengan rindu dan kenangan yang tak pernah usai.


Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar