Sepenuh Hati


Walau bagaimana pun caranya, kepergianmu adalah luka. Tak ada yang seperti kepergian matahari kala sore yang banyak ditunggu. Bersama luka yang kamu tinggalkan. Aku menyimpannya dengan rapi dalam tempat yang pernah kamu singgahi. Hati.
Aku tidak menyangka, kamu akan mengambil keputusan seperti ini. Memilih pergi. Dan aku juga tak mengira akan secepat ini. Walau bagaimana pun, aku mencoba menerimanya. Sekali pun berat, aku akan mencoba.
Meski saat ini kamu jauh dari hati, tapi kasih sayangku masih tetap ada. Jika mengingat apa yang pernah kita lewati, seakan bayangmu hadir lebih nyata. Seakan aku masih tetap rajin mengunjungi penjual es jus di Jalan Wijaya Kusuma Situbondo. Kita juga rajin membaca koran dan menyeruput es jus  bersama-sama. Tampak jelas bayangmu ketika aku masih rajin memancing bersama di Dermaga Panarukan. Meskipun tidak pernah dapat ikan, tapi aku dapat menangkap senyummu. Atau duduk-duduk di salah satu tempat sambil memandang Gunung Putri Tidur, lalu kepalamu disandarkan pada bahu. Mungkin kebersamaan kita tidak akan terekam lagi oleh CCTV yang terpasang di berbagai sudut di Kota Situbondo.
Begitu banyak kenangan berlalu. Mungkin saat ini hatiku seperti aspal rusak di desaku yang sudah tak diperhatikan oleh pemerintah. Tapi aku yakin, suatu hari nanti kamu akan kembali. Meskipun itu mustahil, tapi jodoh bisa saja terjadi. Mungkin ini hanya perpisahan sementara. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu. Namun rasa di hati tetap ingin memilikimu.
Meskipun aku pernah melihatmu bergandengan bersama kekasih lain dan kita masih terikat hubungan, aku pun tak menegurmu. Sebab, aku sadar. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Tidak membuat nyaman berada di sampingku. Atau mungkin dia seseorang yang lebih baik dariku. Hingga pada akhirnya, kita benar-benar berpisah.
^^v^^
Tidak sampai setahun, dugaanku benar. Kamu mulai menghubungiku lagi. Di suatu tempat wisata kita berjumpa sesuai janji. Kamu memilih singgah di hatiku lagi. Untuk pertama kalinya, kamu memelukku dan aku membalasnya. Bajuku basah dengan air mata bahagia dan luka.
 “Terima kasih, Tuhan. Telah mengabulkan doaku,” gumamku dalam hati.
Aku mencoba menguatkan hati. Mendengarkan setiap permintaannya. Meskipun kehadirannya bersama bayi dalam kandungan yang bukan darahku. Aku tetap menerima.

Sumber gambar : engzdesain.com

Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar