Cinta Ditolak

Bagi saya pribadi, cinta yang ditolak itu menyakitkan juga. Begitulah ketika cinta bertepuk sebelah tangan. Ada banyak macam alasan; masih fokus sekolah, gak mau pacaran, masih belum bisa move on dan semacamnya. Setiap orang juga punya hak untuk menolak. Karena memang tak ada kecocokan atau tak sesuai dengan kriteria yang diimpikan. Yang pasti cinta memang tidak bisa dipaksa, sekalipun ia kaya, tampan, cantik, sopan, baik dsb. Karena cinta memang aneh. Maka yang bisa dilakukan adalah menerima dan menghargai keputusannnya.
Saya pernah pdkt selama 5 bulan, jalan-jalan, saling memberi kabar, curhat, cerita-cerita, sudah sama-sama memberi yang terbaik. Setelah saya mencoba mengungkapkan perasaan, ia tidak langsung menjawab, yang mau mikirlah, dipertimbangkanlah, setelah beberapa minggu menunggu. Ia memberi jawaban yang tidak sesuai dengan harapan. Nyessek. Tapi lama-kelamaan cepet reda juga. Meskipun pada akhirnya menjadi teman saja. Tidak lebih.
Ditolak, memang wajar sih. Tapi di sini saya banyak belajar. Kadang ketika saya ditolak, lantas tidak membuat putus asa. Kadang saya mencoba lagi dilain waktu dengan rayuan yang mematikan, tentunya diimbangi dengan sikap yang peduli, perhatian, ketika  dicoba ternyata berhasil. Ada juga yang gak berhasil. Selain itu kita juga bisa mencari yang lain. Karena cewek tidak cuma satu.
Yang penting sudah berani mengungkapkan rasa. Kalau kuat dipendam ya gak apa-apa. Saya dulu juga pernah mengalaminya.
Saya pernah ketemu lagi dengan orang yang pernah menolak saya beberapa tahun sebelumnya. Dia juga tambah lebih asik ngobrolnya dan lebih dewasa tentunya. Ya, meskipun kadang bikin baper mengingat-ingat perjuangan waktu dulu. Ketika gombal-gombalan, sok perhatian. Dipikir-pikir, saya lebay deh.
Kadang saya juga pernah dihadapkan dengan perempuan yang juga mencintai saya. Meskipun terkadang saya tidak mencintai tapi saya selalu memberi kesempatan. Saya mencoba menjalaninya. Kalau nolak kadang saya merasa kasihan. Itu dilihat dari ketika saya mengalami cinta yang  ditolak. Katanya kebanyakan hati perempuan mudah rentan. Lama atau nggak-nya pacaran pada waktu urusan belakang deh.
Saya yakin, selalu ada hikmah di balik semuanya. Saya pernah ngotot pada seseorang perempuan supaya dia mau menjadi pacar saya. Dia orangnya kalem, kulit gak begitu putih, pokoknya gak membosankan. Pada waktu itu dia  masih SMP kelas 2. Usaha pertama saya ditolak, alasannya karena dia masih belum melupakan pacaranya. Setelah menunggu beberapa bulan, eh dia punya pacar baru. Sial.
Saya tetap menunggu, ketika putus saya mencoba lagi, rajin SMS, perhatian, kadang-kadang saya mengunjungi wisata yang dekat dengan rumahnya supaya bisa bertemu. Alhasil usaha saya masih sia-sia. Katanya takut tersakiti lagi, atau bilang lelaki semuanya sama saja.
Bahkan ketika hingga lulus SMP, dia masih menolak, SMA kelas 1 pun juga gak berhasil, yang jelas pada waktu itu saya berusaha dengan sungguh-sungguh, memasuki SMA kelas 2, dia juga mulai merespon dengan sikap. Intinya dia gak begitu cuek sama saya, lebih dewasa, sewaktu-waktu juga mau diajak ketemuan. Setelah ditanya tentang statusnya, ternyata dia sudah tunangan. Dan dia juga berhenti sekolah karena hamil.
Maka dari itu saya mulai berhenti mengejarnya. Bukan karena menyerah, tapi jika sudah berbicara tunangan saya sadar, tidak baik juga menunggu dia lagi. Lagu yang sering saya putar yang berjudul ‘Cinta dalam Hati” dari Ungu. Saya sering mendengarkan waktu sendiri, sambil lalu baper gitu. Duuuuh. Hati sudah gak muat lagi. Walau bagaimana pun pada akhirnya, saya harus belajar melupakan. Sebab ada banyak hal yang memang harus diperjuangkan. Keluarga misalnya.
Beberapa tahun berikutnya, saya mempunyai teman yang sangat akrab yang kebetulan dia juga banyak tahu tentang seseorang yang saya cintai waktu dulu termasuk seluk beluk keluarganya. Saya tidak bercerita kalau dulu pernah menyukai dia. Jadi saya pura-pura gak kenal. Teman saya banyak cerita tentang hal-hal yang negatif tentang dia. Saya hanya mengangguk-angguk saja, sebab saya memang tidak tahu banyak.
Saya memang tidak tahu di balik takdir Tuhan. Saat itu pula saya bersyukur cinta saya ditolak beberapa kali. Jika diterima bisa jadi saya termasuk orang-orang yang menyesal nantinya. Mungkin.
Jadi, intinya ketika cinta kita ditolak, jangan cengeng tetap semangat. Bisa cari yang lain atau banyak melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, menjadi lebih produktif, sukur-sukur bisa multi talent, mengembangkan bakat-bakat atau cita-cita. Buatlah seseorang yang pernah menolak suatu hati menjadi terkagum dengan diri kita sendiri. Bahkan saya pernah menjadi orang yang dibutuhkan oleh seseorang yang pernah nolak saya. Kadang saya menolak jika mereka memberikan sesuatu berupa uang, cari semacam perhatian gitu. Hehe. Yang penting jangan pernah menyerah dan putus asa. Dan jangan lupa pula berdoa.

Sumber Foto: yosua.net

Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

1 komentar:

  1. dulu di jabar thn 2001 saya tergila gila dg seorg cewe namanya Nur rumahnya timur bendungan andir ciparay bdg, saya ngejar dia sampai 2thn sampai thn 2003, sampai saya putus asa dan ingin bunuh diri tp saya ditolak habis habisan. saya nekad melamar dia saya ditolak. saya terpaksa nyari cewe lain nama nya yani, di desa paseh majalaya bdg , saya dihajar org. saya thn 2005 nyari cewe lain, di kampung saya di jawa tengah nama nya mulyati, saya dibohongi teman. saya beberapa thn berhenti nyari cewe, thn 2015 nyari cewe lagi di kampung saya, namanya izzah saya ditolak lagi. hidup kok kejam bngt. pdhl saya baik dan jujur dan suka bantu org tp nasib saya sial bngt. teman teman saya suka mabok dan ugal ugalan tp mrka mudah dapat cewe. saya sdh 12 thn agak rajin ibadah tp nasib tdk berubah. sebelum nya thn 1997 nyari cewe dkt pabrik tempat saya kerja, namanya tety saya ditolak. thn 1998 nyari cewe, namanya siti di ciroyom saya difitnah teman, teman bilang kpd cewe saya sdh nikah di jateng, pdhl blm. thn 2001 nyari cewe yg sepabrik dg saya, nama nya efi saya ditolak.

    BalasHapus