Surat Untuk Mantan

Aku menulis surat ini ketika rindu akan mendekap kita. Mungkin. Tak perlu kutanya bagaimana kabarmu, yang jelas kita sedang gelisah. Bukan begitu, Alfiana?
Bukan maksud ingin mengingat masa lalu, tapi jika melihat diriku di masa itu. Aku bahagia. Meskipun dulu, aku tidak benar-benar menjadi milikmu.
Ya, hampir satu tahun, kita menjali hubungan. Aku mempertahankan meskipun sebenarnya bukan apa-apa di matamu. Setidaknya itu yang kurasa. Kau selalu menolak setiap kali aku menginginkan pertemuan. Kau menjawab dengan berbagai alasan. Selama kita pacaran kita hanya bertemu empat kali, itu pun karena hanya mengantar tugas-tugasmu sesuai yang kau minta. Tapi tidak apa, yang penting terbalas dengan pertemuan. Itu sudah cukup.
Perhatianmu tidak ada. Bahkan tak ada kata-kata romantis. Setiap waktu aku lebih dulu mengabarimu. Berbeda dengamu yang hanya ketika butuh. Entahlah, tapi itu membuat aku semakin semangat berjuang. Sampai sejauh mana usahaku. Karena aku yakin. Suatu saat akan mampu membuat kau mencintaiku.
Namun usahaku tetap sia-sia, kau tidak pernah berubah. Kau menginginkan hubungan ini berakhir. Dalam keputusan ini, aku tidak bisa mempertahankanmu seperti sebelum-sebelumnya ketika meminta putus. Tak perlu kuperdebat alasannya. Sebab aku pun sering melihatmu bersama lelaki pilihanmu, juga kabar dari sahabatku. Dan aku menerimanya, tak perlu meyakinkanmu lagi untuk mempertahankan hubungan ini.
Aku memulai hidup tanpamu. Hari-hari yang aku lalui terasa hampa. Mencoba belajar dari hal apa yang disebut menunggu. Itu menyakitkan.
===
Pada suatu waktu, kau menelponku. Kau meminta maaf dan menginginkan kisah kita berjalan kembali.
“Aku benar-benar mencintaimu.”
“Kemarin-kemarinnya ke mana saja?”
Kau tak mejawab hanya serak tangis yang terdengar. Kau mengajak berjumpa, tapi sayang aku tidak bisa mengikuti semua permintaanmu. Pada waktu itu aku sedang ujian semester dan aku juga masih ragu. Lalu aku pun juga mengabaikanmu.
Aku kira kau akan memaksa bagaimana pun caranya meyakinkanku. Seperti yang pernah dilakukan olehku. Dulu. Tapi dugaanku salah. Kau memang tidak ada keinginan sama sekali. Perlahan kau mulai menjauhiku. Padahal aku juga mulai memikirkannmu, meskipun agak lama.
Aku mulai ambil keputusan, dan melupakan semua yang terjadi di waktu dulu. Aku berharap bisa memulai hidup baru denganmu.Dan akan banyak menghabiskan waktu bersamamu tanpa malu dengan siapa pun.
Bahkan aku juga berangan-angan ingin mengajakmu jalan-jalan dengan bergabung Backpacker Situbondo, setidaknya belajar menaklukkan wisata-wisata Situbondo yang penuh tantang meskipun tidak semudah menaklukkan hatimu. Kita akan dapat mengunjungi Gunung Putri Tidur agar kau juga tertidur di pangkuanku.
Aku juga akan mengajakmu bergabung Situbondo Photography Ponsel atau dikenal dengan Si Ponsel yang pasti bukan  menggunakan camera LDR. Dengan camera tajamnya, dapat memotret dari angel mana pun termasuk segala kelebihan dan kekurangmu. Mungkin kita juga bisa belajar diecats mobil-mobilan meskipun bukan mobil beneran. Tidak seperti kekasihmu dulu yang serba ada.
Tapi tenang, aku akan belajar menjadi penyair pada teman-teman Komunitas Penulis Muda Situbondo yang nantinya bisa menerbangkanmu ke mana-mana. Juga aku akan mengajakmu ke lesahan baca yang digelar setiap malam Minggu di alun-alun Situbondo. Seperti halnya yang dilakukan sahabatku Yudik dengan mengajak nyonya N ke tempat itu. Setidaknya di sana aku juga akan menggelar lesehan rindu. Dan tentu sahabatku Yudik adalah orang yang paling sepakat dengan ideku itu.
Selain itu aku akan mengajakmu bergabung dengan Gerakan Situbondo Membaca yang digagas oleh Imam Sofyan. Setidaknya aku bisa rajin membaca hati dan sikapmu. Serta bergabung dengan Situbondo Breakin atau komunitas dance di Situbondo agar kau bisa terus menari di pikiranku.
Tak lupa pula aku akan mengajakmu nimbrung bersama Komunitas Desain Grafis Situbondo dan Situbondo Kreatif. Kita akan belajar ngedit foto-foto dan video bersama milik kita, terlebih kita akan bersyukur jika bisa meng-edit ego kita menjadi cepat baikan ketika bertengkar.
Jika berbicara tentang olahraga, mungkin kau boleh ikut  main futsal bersama Fans Club Barcelona Situbondo. Aku akan jadi kiper. Biar bisa menangkap senyummu. Dan aku akan pura-pura terkecoh ketika lolos dari bola matamu.
Begitu pun dengan Slank Fans Club Situbondo yang peduli sosial. Kita akan bergabung dengannya agar sama-sama peduli terutama hubungan kita. Kata teman waktu kecil Slank adalah singkatan dari Sudah Lama Aku Naksir Kamu. Mungkin hal ini juga terjadi padaku.
Bahkan setiap tahun aku akan mengajakmu rutin menonton Festival keren di Situbondo seperti; Festival Kampung Langai, Argopuro Festival  dan Pariopo Festival . Tentu aku tak akan pernah melewatkanya tanpamu. Yang terakhir mungkin aku akan mengajakmu bertani dengan menanam benih-benih kasih sayang di ladang sunyi miliknya Tuan Zaidi dan istrinya si Vela S. Agar tidak terlalu sepi ,aku akan memutar lagu Abental Dede, bisa juga undang tim musik Munajat Perjalanan. Jika lelah bisa istirahat di Rumah Baca Damar Aksara. Di sana kita dapat belajar mencari susunan huruf terindah dalam hidupku, misalnya seperti kata terakhir di kalimat pertama dalam surat ini.Angan-anganku sedikit konyol. Tapi dimaklumi ya! Hehe.
Waktu telah mengubur angan-anganku. Seperti halnya yang disampaikan sahabatmu padaku. Bahwa kau benar-benar mencintaiku. Hanya saja waktumu tak cukup. Sebab kau akan pergi jauh meninggalkan kota ini bersama keluarganya. Kau akan pindah ke luar Jawa. Mungkin itu sebabnya kau tak memperjuangkanku.
Di terminal Situbondo, lambayan tangamu menjadi akhir perjumpaan kita. Terima kasih sudah mencintaiku. Meski kau tidak bisa menjadi milikku lagi. Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi tempat pertama kita berjumpa, di tempat inilah aku menulis surat ini. Tentu dengan segala kenangannya, aku begitu mudah dan lancar. Dan surat ini telah kujadikan mainan pesawat  seperti kesukaanmu. Semoga saat kulempar bisa terbang dan sampai di hadapanmu dengan cepat.
Sumber : http://jcglorifina.blogspot.co.id/




Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar