Kekasih Lama

Pagi yang biru, aku tiba di halaman rumah Nilam. Sepertinya ia sudah menunggu lama. Sesuai janji sore kemarin, kami akan bertemu jam tujuh pagi. Sayangnya, aku telat beberapa puluh menit. Dia tampak cantik, mata tetap tajam,  berbeda jauh ketika masih berstatus pacaran 3 tahun yang lalu. Atau memang karena kami jarang ketemu.

Kadang aku merindukan saat-saat bersamanya. Hubunganku kandas, tapi kami tidak saling membenci. Sesekali saling mengabari di waktu-waktu tertentu. Kebetulan, aku baca status dia di medsos yang ingin mengunjungi salah satu wisata baru. Dengan cepat, aku mengajaknya lewat SMS.

Sorry, Nil. Aku telat.”
“Iya gak apa-apa. Lagian aku baru siap-siap juga.”
“Sudah pamit sama keluarga?”
“Ayah dan ibu keluar kota. Itu sebabnya aku ingin jalan-jalan hari ini.”
Ouh. Yuk, berangkat!”

Aku menyalakan motorku. Semoga saja motorku gak mogok seperti kemarin waktu pulang kuliah. Dan aku masing nggan menarik gas.

“Kok masih belum jalan?”
“Peluk dulu, dong!
Nggak ah. Ntar dimarahi pacarnya.”
Udah gak apa-apa. Ntar lagi aku mau ngebut. Gimana kalau kamu jatuh?”

Aku melajukan motor setelah ada sesuatu yang melingkar di tubuhku.

###

Aku memandang kotaku dari sebuah bukit. Tempatnya sejuk, tenang dan pelayanan yang ramah dari pemilik tempat ini. Kebetulan waktu SMA adalah sahabatku.
Sesekali angin memaikan rambut Nilam. Kadang aku merasa bersalah dengan kekasihku. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Kami sudah mempunya pasangan masing-masing dan untuk saat ini saling berjauhan. Sore kemarin dia sudah menolak ajakanku. Kadang perempuan hanya butuh rayuan. Dan aku meyakinkan dia, bahwa tak ada orang yang akan mengetahui kalau kita sedang jalan-jalan.

“Kapan kita terakhir ketemu?”
“Tujuh bulan yang lalu.”
“Pantesan semalam ngotot ngajak jalan-jalan. Pasti kangen berat.”
“Hehe, tahu aja.”
“Kapan kamu ke toko Be-Ta?”
“Kemarin malam, memangnya kenapa?”
“Gak apa-apa. Oh ya, gimana kuliahmu?”
“Lancar. Kamu sendiri?”
Alhamdulillah. Saat ini lancar juga.”

Kami banyak menghabiskan waktu dengan bercanda apalagi tentang kekonyolan waktu menjalin hubungan. Ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Asik bercerita. Kadang Nilam juga banyak bercerita yang sedih-sedih tentang keluarganya, kesulitan-kesulitan dalam kuliah bahkan termasuk hubungan dengan pacarnya saat ini. Di saat seperti ini, aku mencoba memeluknya bahkan mencium keningnya. Bukan maksud mengambil kesempatan tapi memang seharusnya seperti itu. Bagiku.

Kadang aku menyesal kenapa dulu begitu mudah menyerah. Tanpa mencoba mempertahankan. Suasana yang aku rasakan bersamanya terasa beda. Ini yang kadang membuat aku gelisah. Terlebih ketika aku bercerita tentang perasaanku yang masih sayang, ia juga merasakan hal yang sama. Biarlah jodoh ke mana-mana. Ia pasti pandai mencari yang terbaik. Di situlah letak indahnya sebuah penyesalan.

Menjelang siang, aku sudah beranjak pulang. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini matahari yang menyengat terasa dingin. Hehe. Ntah kapan aku bisa berjalan bersamanya lagi? Mengingat beberapa hari, ini aku sibuk dengan kuliah. Tapi jika urusan dengan Nilam. Mungkin akan diusahakan.
Setelah mengantar Nilam, aku membaringkan badan di atas pembaringanku. Tersenyum. Sambil mengingat kejadian hari ini. Tak lama kemudian, aku mendapat SMS dari Nilam. Terima kasih untuk hari ini. Kalau jalan-jalan lagi bandrol bajunya jangan lupa dibuka!



Sumber gambar : www.wallpapersxl.com

Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar