Cukup di Samping Hatimu



Waktu mempertemukan dengan sosok perempuan. Saat itu, ia masih duduk di bangku SMP, dapat dilihat dari sergam sekolah yang dipakainya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi aku tidak tahu cara berkenalan. Meskipun pada waktu itu, aku sebagai mahasiswa semeter 1. Jadi aku hanya mengaguminya dalam diam.
Suatu waktu, aku bertemu lagi dengan perempuan itu. Terlihat dengan jelas nama di seragamnya. “Alfiana R”. Ia bersama sahabatnya, kebetulan aku juga mengenalnya, meskipun tidak begitu akrab. Namanya Dian. Sejak itu, aku mulai sering SMS Dian dan tidak pernah berbicara sedikit pun tentang sahabatnya itu. Biar tidak curiga.
Ramadhan di tahun 2009
Kedekatanku dengan Dian berujung ngabuburit. Dan Alfiana pun juga ikut. Aku pun juga mengajak Wilan sahabat kuliah dan kami mengunjungi salah satu pantai di Situbondo. Aku pun dikenalkan pada Alfiana oleh Dian. Suasana pada waktu itu memang agak canggung, apalagi aku tidak begitu suka selfie. Sore itu kami menghabiskan foto-foto dan sedikit tentang cerita-cerita sekolah.
Kami buka puasa di dekat wisata tersebut. Aku duduk berhadapan dengan Alfiana. Dia cantik. Aku hanya berandai-andai bisa menjadi pacarnya. Aku suka cara dia tersenyum, berbicara dan tingkahnya. Terkadang tatapan mataku berbenturan. Aku langsung menundukkan kepala.
Hari demi hari, pertemananku semakin akrab.Tetap saja aku masih pandai memendam perasaan ini. Aku juga senang berteman dengannya. Bahkan aku mulai suka yang namanya hunting foto. Kadang aku suka mencuri foto Alfiana di facebook, lalu menyimpannya di HP nokia 5000 dengan memori  13 MB. Lalu meng-convert size-nya supaya lebih kecil. Foto-foto hasil hunting sering aku lihat ketika mau tidur. Meskipun hanya foto, aku sangat bahagia.
“Alfiana, aku mencintaimu,” begitulah suara hatiku berkata. Lalu aku terlentang di atas pembaringan. Meletakkan HP di dada. Dan pikiranku melambung jauh menelusuri bayangnya.
===
Semenjak lulus SMP, aku berkeinginan mengungkapkan semuanya. Akan tetapi, Wilan menyarankanku  untuk dijadikan sahabat saja, kalau dijadikan pacar, Wilan khawatir akan putus, lalu persahabatan pun juga akan berakhir. Bukankah dia selalu ada untukmu, jalan-jalan ke tempat wisata atau malam mingguan. Itu sudah cukup. Begitulah pesan dari Wilan. Selain itu rasa takut tidak diterima masih terus menghantuiku. Jika aku mengungkapkan perasaanku, lalu dia menolak, tentu membuat persahabatan ini akan berbeda lagi. Aku memilih diam. Tapi aku bisa berjuang untuknya sebagai sahabat, seperti membantu tugas-tugas sekolah jika tidak mampu, menemani di kala sendiri, layaknya seorang pacar.
Sementara Dian berencana masuk SMA di Bali, saat itu persahabatan kami seperti ada yang kurang. Dian juga berpesan agar menjaga persahabatan yang telah terjalin. Persahabatan kami terus berlanjut, bahkan Alfiana mulai menambah dua orang perempuan teman baru di SMA-nya. Ayu dan Meri. Bersamanya, kami banyak menelusuri wisata-wisata di Situbondo bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa, kadang juga kesasar.
Pershabatanku mulai berubah, ketika Alfiana mempunyai pacar baru. Entahlah, aku mulai merasakan ada yang sakit dalam hati. Terlebih ketika ia curhat tentang sosok lelaki yang dicintainya. Tentu aku harus menerima. Aku sadar. Aku hanya sahabatnya. Walau bagaimana pun kebahagiaannya adalah kebahagianku juga. Perlahan kami pun mulai jarang bertemu. Aku mengakui, Alfiana mulai banyak menghabiskan waktu bersam pacarny. Terkadang aku sedikit menyesal. Dan rasa itu tetap ada. Persahabatan kami mulai renggang. Nyaris jarang ketemu. Aku pun belajar melupakan dan mencari kekasih yang lain.
===

Januari 2013
Berawal dari pertemuan yang tidak sengaja.
“Alfianaaa,” panggilku di jalan menuju Bendungan Sampean Baru. Saat itu aku bersama kedua sahabatku. Termasuk Wilan salah satunya.
Ia menghampiriku bersama sahabat barunya. Beberapa pertanyaan saling bersahutan. Sudah lama kami jarang bertemu. Dia tambah dewasa, penampilannya pun berubah. Mungkin ini adalah tabrakan rindu yang menyenangkan.  Lalu kami menghabiskan waktu sejenak di Bendungan itu.
Pertemuan itu menjadi awal kedekatan persahabatan yang dulu sempat jauh. Aku juga mulai berusaha membuang perasaan itu. Aku bertekad menjadi sahabat yang benar-benar sahabat tanpa ada rasa ingin memiliki lagi sebagai seorang kekasih. Ia juga sedang putus dengan pacarnya, begitu juga denganku.
Aku memulai SMS.
Hai jomblo
Ih jahat, udh tau q sedih
Sedh knp? Udh move on aja sm aku
GR
I Love You, Hahaha. Justkid
Nggak, :p hhhaha
Serius
2 rius
Anggep adik pura2 mau jdi pacarku dong,”
Ayo cba rayu
Mau gk jadi pacarku?
Gimana ya.
Mau dong, q sdh lm suka sm kamu
Gk percaya
Hhhaha, eh dik udah dulu, dah mlm
Ok, kak. Lnjut lain waktu
Sebenarnya, sebelum dan sesudah SMS di atas masih banyak, namun hanya ini yang kuingat.
Begitulah keakrabanku dengan Alfiana. Dalam persahabatanku tidak ada batasan dalam panggilan. Dan lebih terbuka satu sama lain. Suatu waktu di awal 2015, Alfiana sedang curhat tentang keluarga yang kebetulan waktu itu terdesak ekonomi, selain itu ia juga bercerita tentang kuliah yang mulai terbengkalai. Bahkan ia juga bercerita tentang perasaannya. Ia juga mencintaiku. Akan tetapi aku menyangkalnya. Kita akan selalu bersahabat. Bukankah dengan bersahabat kita sudah saling memiliki. Aku banyak menasehatinya meskipun itu berat. Tapi itu komitmenku. Dan aku mengecup keningnya untuk pertama kalinya.
Namun pada Agustus 2015, ia menghempaskan napas terakhirnya. Sebelumnya ia pernah bercerita tentang penyakitnya. Kabar itu membuat aku tak percaya, saat itu aku sedang Study Tour di Jogja. Setelah 7 hari kepergian Alfiana, Diana memberikan surat dan sebuah foto.

Buat Sahabat Sejatiku
Terima kasih kau telah mengjarkanku apa itu sahabat. Ini keputusan yang sulit. Kau begitu kuat, sekalipun rasa itu muncul di antara kita.

Aku tak mampu meneruskan surat itu dan melipat kembali.

Sumber foto : www.evisrirezeki.com

Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar