Bayangan Perempuan Ijen

Catatan Perjalanan
Aku membayangkan seseorang perempuan berada di puncak Ijen. Tapi masih tidak jelas, apakah seseorang yang berasal dari masa laluku atau perempuan dari masa depan. Anggap saja aku tidak lama berjumpa. Itu sebabnya, aku mendaki penuh dengan semangat.
Ini perjalanan pertamaku di Kawah Ijen. Maklum, aku kurang piknik. Kegiatan ini dalam rangka 1st Anniversary Backpacker Situbondo dan memperingati hari bumi yang di laksanakan pada tanggal 23-24 April 2016 di Kawah Ijen. Pemberangkatan dari Kota Situbondo mulai jam 1 siang. Akan tetapi, aku berangkat pukul 19.30 WIB dengan 5 teman yang juga ingin menyul ke Kawah Ijen. Kebetulan siangnya, aku lagi kerja.
Malam itu, aku dan teman-teman menerobos malam. Memasuki daerah Sumber Wringin, rantai motor milik Zaki selalu keluar dari gear-nya. Entah berapa kali rantai itu copot, untung bukan hatinya yang copot, bisa-bisa pensiun jatuh cinta terlalu dini. Tapi teman-teman tetap semangat saling jaga. Apalagi jalan menuju Kawah Ijen sebagian banyak yang rusak. Beberapa teman ada yang hampir terjatuh.
###
Pada akhirnya, aku juga tiba di lapangan pintu gerbang wisata ini. Aku langsung membaur dengan teman-teman yang kebetulan sedang melingkari api unggun. Lega rasanya. Perutku mulai lapar, apalagi sejak pagi, aku belum sarapan. Duh. Sementara, aku ke sini lebih banyak bermodal tekad. Hanya membawa uang Rp. 15.000. Lima ribu kusumbangkan untuk beli bensin yang diiringi minta maaf karena hanya itu adanya. Sementara sepuluh ribu kugunakan untuk tiket masuk.
Malam itu, aku coba nahan lapar. Meski tak sekuat nahan perasaan. Kucoba menikmati kopi yang teman-teman tawarkan. Mantab sekali.
Aku menikmati acara yang tersisa. Acara yang begitu seru. Mereka memamerkan tawa terbaiknya. Mereka bernyanyi, pantun, bercerita, baper, tebak-tebakan. Serunya. Momen yang sangat langka bagiku. Dan juga kenal saudara-saudara baru.
Itu hanya cerita singkat saja. Hehe. Oh ya. Tak lama kemudian, Mbak Aryanti bawa nasi, ikan telor dadar dan mie yang dibawa dari rumah. Aku makan bersama dengan beberapa teman yang belum makan. Kenyang.
Selanjutnya memasuki ke acara inti. Pintu masuk dibuka pukul 01.00 WIB
Aku berangkat di kloter 1. Berangkat 01.30 WIB. Malam itu dingin sekali. Jaket pun tak mampu meredamnya. Para pengunjung ramai sekali. Aku dan beberapa rombongan mulai berpencar.Tak lama kemudian, jalannya mulai menanjak.
Terkadang, aku berjalan begitu cepat. Hingga tak terasa aku berjalan seorang diri, terpisah dengan teman-teman yang lain. Kulihat sejenak bulan yang telah selesai purnama. Berwarna sendu, seperti memancarkan kecemasan. Jalan setapak yang aku lalui tidak begitu gelap. Sinar bulan sedikit menerangi jalan ini. Tak terasa tenagaku mulai terkuras.
“Ayo cepat!” Terdengar suara perempuan yang memerintah seperti pohon Ellcrycs dalam serial TV The Shannara Cronicles. Aku seperti menapaki sebuah kenangan. Terlihat bayangan perempuan di depanku. Mengisyarakatkan untuk tetap berjalan.
Tiba-tiba konsntrasiku buyar. Terlihat perempuan menyalip dari kananku. Tubuhnya seksi. Rambutnya panjang, celana pendek ketat dan menyembul. Ia berjalanlan seperti ular. Bokongnya bergiul-giul ke kiri kanan. Dan semangatku juga mulai bertambah. “Masak kalah sama perempuan,” gumamku dalan hati. Tapi aku tak mampu mengejarnya.
Aku memilih duduk di batu pinggir jalan sembari menunggu teman yang lain. Pikiranku kacau, tertuju pada suasana kampung halaman. Dan juga tertuju pada titiktitiktitik.Hehe. Selanjutnya aku berjalan bersama teman-teman yang lain. Salah satunya pendaki cilik, Si Fikri.
Entah jam berapa aku tiba di Kawan Ijen. Pada waktu itu, aku memilih untuk tidur. Mata sudah berat. Sama sekali aku tidak tertarik melihat Blue Fire seperti yang dibincangkan teman-teman sebelumnya.
Dalam cuaca yang amat dingin membuat segalanya menjadi beku. Aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku terlelap di atas batu yang menjelma menjadi kasur.
###
Aku membuka mata perlahan. Entah berapa lama aku tertidur. Langit tampak cerah meskipun dengan kabut yang menggantung. Di sekitar tempat ini mulai terang dan banyak pengunjung dari lokal maupun manca.
Ke manakah sosok perempuan yang aku bayangkan sejak pertama mendaki? Nanti, saja kuceritakan. Sebab, aku sedikit tersesak dengan bau belerang dan ingatan.
Kawah itu berwarna hijau kebiruan. Tampak asap yang mengandung bau belerang mengepul dalam asap. Dalam momen ini, kuucapkan syukur atas segala ciptaan-Nya yang indah. Aku pun mengabadikan pemandangan di Kawah Ijen. Hingga akhirnya, aku bertemu kembali dengan beberapa teman yang lain.
Sekitar pukul 06.20 WIB, aku berfoto dengan sebuah kertas warna putih dan terdapat nama seseorang yang aku tulis sebelumnya. Lalu, aku memutuskan untuk turun dengan beberapa teman yang lain.
###
Perjalanan turun lebih cepat, aku istirahat, melepas lelah di tenda. Begitu pun dengan teman yang lain. Mereka juga asik berfoto-foto atau menikmati bekal yang tersisa. Sekitar 6 orang pulang duluan sebelum acara selesai, termasuk aku di dalamnya. Karena ada kepentingan yang harus di selesaikan.
Sesampainya di Klabang, Bondowoso. Teman-teman berhenti disebuah warung bakso. Tertulis “Bakso Kabut”. Aku duduk di sofa, sembari memesan bakso dan minuman. Aku sedikit penasaran. Seperti apa sih bakso kabut? Maklum, pertama kali.
Sembari menunggu, pikiranku tertuju pada kabut pagi tadi setelah bangun tidur. Kulihat perempuan berjalan menuju kabut. Ia seperti menuju goa. Aku mengikutinya. Sepertinya tempat ini berada di bawah air kawah. Sebuah tempat yang besar yang di atasnya seperti wajan yang besar. Di sudut ruang ini terlihat sosok perempuan yang sedang menyalakan api yang besar. Aku menduga, mungkin ini yang menyebabkan kawah ini mengepul asap. Aku mendekatinya.
“Permisi, apa kau tinggal di sini?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Apa kau tinggal bersama seseorang?”
“Dulunya iya. Sekarang aku janda muda.”
“Loh, ke mana suaminya?”
“Tenggelam di kawan ini.”
“Lantas, kenapa kau tinggal di bawah kawah? Atau barangkali kau bisa cari kekasih lain.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintainya. Itu sebabnya aku selalu menyalakan api di bawah kawah ini,”
“Untuk apa?”
“Aroma kekasihku tercium melalui asap ini. Sebuah asap yang mengandung belerang kata orang. Tapi tidak bagiku.”
“Kok bisa?”
“Ini asap kerinduan. Asap ini beraroma suamiku yang mengobati segala rinduku.Jika beberapa orang menghirup asap ini. Maka ia akan terserang kerinduan juga. Entah kepada keluarga, sahabat, guru dan sebagainya. Aku suka melakukannya.”
“Benarkah?”
Perempuan itu mengangguk. “Jadi, siapa yang kau rindukan?” Lajutnya.
Mungkin aku tak perlu menyebutkan sebuah nama. Meskipun kenyataannya aku benar-benar rindu seseorang. Lalu perempuan itu hilang. Aku pun beranjak pulang.
###
Bakso kabut siap dihidangkan.
Selesai
Nb : Terima kasih traktiran baksonya, Mbak Aryanti.



Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

2 komentar: