Cerpen - Curah Tangis

(Dimuat di Radar Banyuwangi. Minggu, 26 Februari 2017)
Tangis yang mana lagi yang harus dilantunkan lewat instrumen air mata?
Terkadang suara perempuan menangis itu terdengar nyaring di sekitar jalur tengkorak, hutan Baluran. Atau dengan tidak sengaja, orang yang melintas di sana akan bertemu dengan sosok perempuan yang sedang bersedih. Tangisnya seperti suara alam dari masa lalu.
Mungkin bagi sopir yang melintas Situbondo-Banyuwangi sudah tidak asing dengan cerita itu. Konon di jalur ini rawan kecelakan yang disebabkan oleh perempuan yang suka menangis itu. Akan tetapi sebagian orang banyak mengatakan kecelakaan terjadi karena ketidakhati-hatian pengendara, sebab jalan rusak, bergelombang, banyak tikungan, bahkan tak ada penerang di pinggir jalan ketika malam kecuali lampu kendaraan. Belum lagi banyak kendaraan mogok di sepanjang jalan kawasan hutan Baluran.
***
Dahulu, sebelum Indonesia merdeka. Terdapat sebuah kisah seorang remaja antara Taroro dengan kekasinya, Jasman. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Taroro adalah seorang perempuan yang sangat manis, berkulit putih, rambutnya sering dikepang dan sedikit manja. Ia tinggal di pinggir hutan.
Taroro sangat mencintai Jasman, seorang lelaki di desanya yang dikenal sebagai pekerja keras. Ia suka beternak, menanam sayur-sayuran, suka gotong royong, memberikan bantuan kepada warga. Di usia remaja ia sudah menjadi tulang punggung keluarga. Dengan kehidupan yang sederhana dan sikap lembutnya membuat Taroro jatuh hati.
Bermula dari kematian ayah Jasman akibat menentang tentara penjajah, Jasman juga mempunyai semangat yang sama untuk membela desanya yang diperas. Seperti yang dilakukan oleh sang ayah. Ia mulai tergabung dalam sebuah pasukan di luar desanya. Maka ia meminta persetujuan pada Taroro.
“Kakang, sebaiknya kamu tidak usah ikut dengan mereka. Aku khawatir, nanti kamu akan pergi meninggalkanku.”
“Tunggu saja, aku akan kembali dan tidak akan meninggalkanmu.”
Taroro hanya menundukkan kepala. Sebenarnya ia percaya dengan keputusan Jasman. Selama ia bersama, Jasman tidak pernah ingkar kepada janjinya. Apalagi lelaki yang dicintainya penuh dengan tanggung jawab. Tetapi kali ini Taroro agak ragu. Ia hanya diam, membayangkan hal-hal yang terjadi diluar dugaan. Sebab ia juga tahu siapa yang akan dihadapi kekasihnya itu.
“Percayalah! Sekitar 5 bulan yang akan datang tepatnya di awal bulan Sappar, aku akan menemuimu di sungai dekat tebing. Ini demi kebaikan desa dan hubungan kita. Setelah itu, kita akan segera menikah,” tegas Jasman. Meski sebenarnya ia tidak begitu yakin apakah nanti akan bertemu lagi. Namun demi meyakinkan dan menenangkan kekasihnya, ia terpaksa mengucap janji itu.
“Baiklah, jika itu pilihanmu. Aku hanya bisa berdoa demi keselamatanmu,” Taroro memeluknya dengan pasrah.
***
Rasa khawatir dan kerinduan seakan membuat waktu berjalan begitu lambat. Hari yang dijanjikan oleh Jasman telah tiba. Taroro datang ke sebuah tebing, di sana terdapat sungai yang jernih. Taroro duduk di samping batu besar, dekat dengan jembatan yang terbuat dari bambu. Di sana merupakan tempat Taroro bermain ketika ia masih kecil bersama teman-temannya dan juga awal kisah bersama Jasman.
Seharian penuh ia menunggu namun kekasih yang ditunggu tak jua tiba. Ia datang lagi keesokan harinya, akan tetapi hanya mendapat pertemuan kosong. Bahkan setiap hari ia selalu datang ketempat yang dijanjikan akan tetapi tetap saja Jasman tetap tak menampakkan batang hidungnya.
Apakah Jasman akan mengingkari janji? Sesekali terlintas sebuah pertanyaan di hati Taroro. Namun ia selalu menepis keraguan itu. Ia yakin Jasman akan datang menemui dan menikahinya. Hanya dia harapan satu-satunya yang mampu membuat Taroro bahagia.
Bulan Sappar berlalu, Taroro banyak menghabiskan waktu di pinggir sungai, kadang ia menangis ketika teringat kekasihnya. Di sana ia habiskan waktu dengan mengenang bayang-bayang indah bersama Jasman. Ia hanya bisa berkhayal kelak benar-benar menjadi istri Jasman. Ia akan mengirim bekal suaminya ketika sedang sibuk bercocok tanam atau ikut membantu memberi pakan hewan ternak. Hidup bahagia bersama hingga usia menjeputnya. Dan yang paling penting dikaruniai buah hati.
Bulan demi bulan berlalu, Taroro tetap setia menunggu. Meskipun kedua orangtua dan teman-temannya menasehati, ia tetap percaya bahwa Jasman tidak akan mengingkari janjinya. Ia perempuan yang tabah meskipun berselimut dengan kesedihan.
“Sebaiknya kamu cari pengganti yang lain, Nak!”
“Tidak, Bu. Roro mau menunggu Kang Jasman. Dia tidak akan pernah mengingkari janji.”
“Sampai kapan? Ini sudah hampir dua tahun. Tidak baik, menunggu hal-hal yang tidak pasti.”
***
Sementara itu, di sebuah gua tengah hutan, di temukan beberapa mayat bergelimpangan. Akan tetapi berita itu tidak pernah menyebar ke mana pun. Siapa saja orang yang tewas di sana? Apakah Jasman termasuk di dalamnya? Tak ada yang tahu.
Berita kemerdekaan Indonesia terdengar dengan lambat. Warga penduduk sekitar hutan pun bergembira meskipun ada anggota keluarga yang tidak kembali. Mereka menobatkan pemimpin yang berjuang melawan penjajah sebagai pahlawan bagi yang layak, mereka menelusurinya jika dianggap mempunya kontribusi besar. Sementara tak ada yang mencari atau menelusuri jejak, Jasman atau pasukan biasa lainnya.
“Seharusnya Kang Jasman sudah kembali,” sesekali Taroro merintih.
Taroro pun masih belum mendengar kabar kekasihnya. Setiap kali bertemu dengan penduduk ia selalu bertanya tentang keberadaan Jasman. Taroro memang tidak pernah mendengar berita-berita kamatian Jasman, sekalipun tewas ia tidak pernah percaya sebelum melihat jasadnya. Ia begitu yakin suatu hari kekasihnya akan menemuinya. Barangkali kekasihnya masih berada di desa tertentu. Sebuah tempat yang tak ia ketahui.
Penduduk di sana mulai bertambah, banyak perantauan yang mulai hidup di sana. Beberapa pemuda mulai banyak yang mendekati Taroro, ada pula yang suka merayu, bahkan ada yang ingin melamarnya dengan berbagai macam janji yang menggiurkan, ada juga yang ingin menjadikan Taroro sebagai istri kedua. Sama sekali Taroro tidak tertarik. Ia tetap pada pendiriannya. Bahkan anak kepala desa yang tampan dan kaya pun ia tolak.
Taroro tetap suka menghabiskan di tempat yang dijanjikan Jasman. Jika ada orang yang melintas mencari kayu bakar, mencuci di sungai, menangkap burung ia tak segan-segan bertanya tentang keberadaan kekasihnya. Ia selalu mendapat jawaban nihil. Beberapa perempuan yang sebaya kadang membicarakan Taroro setelah bertemu di dekat sungai.
“Kasihan Taroro, ya?”
“Kasihan bagaimana? Lelaki tidak cuma satu.”
“Mungkin dia setia sama kekasihnya.”
“Lelaki macam apa yang ia harapkan. Tidak satu pun pemuda yang menarik perhatiannya. Bahkan anak kepala desa pun ia tolak. Mungkin dia sudah gila.”
Bagi Taroro, harta, pangkat, tampan, tidak menjamin hidupnya akan bahagia. Ia telah menanam cintanya di ladang hati Jasman. Dipupuk dengan penuh kasih sayang. Mungkin ia menganggap dirinya hanya milik Jasman.
Puluhan pemuda sudah ia tolak. Hal ini membuat sebagian pemuda sakit hati. Mereka berniat buruk kepada Taroro. Ketika Taroro sendirian di dekat sungai. Ia didorong ke sebuah curah yang cukup dalam. Kepalanya berlumuran darah dan tewas seketika.
Mayat Taroro ditemukan oleh warga. Akan tetapi setelah warga ikut turun ke jurang untuk diangkat, mayat Taroro hilang. Bahkan tak ada bercak darah di bebatuan. Seakan tidak terjadi apa-apa. Beberapa warga pun keheranan dan diliputi berbagai macam pertanyaan.
Keesokan harinya terdengarlah suara tangisan perempuan yang terdengar ke rumah warga. Beberapa warga memutuskan untuk menghampiri suara tangis itu. Warga sangat kaget mendapati Taroro yang menangis. Beberapa penduduk tak berani mendekat.
Seiring berjalannya waktu, suara tangis Taroro tidak asing ke telinga warga. Mereka sering mendengarnya ketika malam, pagi, bahkan sore. Kadang mereka merasa kasihan apalagi Taroro yang dianggap hantu tidak pernah menggangu warga, bahkan penduduk sekitar mulai tidak takut lagi mencuci di sungai, mencari kayu bakar. Mereka sudah terbiasa. Hantu Taroro sering menyapa penduduk dan bertanya keberadaan kekasihnya. Para warga juga tidak segan-segan berbicara, mengobrol sebentar tentang apa saja.
Hantu Taroro seolah-olah abadi melawati waktu ke waktu. Bahkan ketika pengendara mulai ramai. Kadang hantu Taroro sering menjumpai para pengendara yang lewat tidak begitu jauh dari sungai yang di dekatnya terdapat sebuah tebing. Taroro akan bertanya, apakah pernah mendengar kabar, Jasman? Jika tidak tahu, maka hantu Taroro akan menangis. Kadang ada pengendara yang berhenti dan bermaksud menawarkan pertolongan kepada perempuan itu ketika menangis. Akan tetapi tidak pernah ada yang bisa membantunya.
Bahkan suatu waktu hatu Taroro dihampiri pengendara. Tujuh orang turun dari kendaraan. Mereka penuh nafsu, mirip begal dan menyeret perempuan dengan paksa ke tempat yang sepi. Beberapa jam kemudian di jalan itu banyak orang histeris.***


Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar