Perkenalan


 Saya tidak tahu caranya berkenalan. Tiba-tiba saya menjadi orang yang pemalu sekaligus pendiam. Itulah ketika saya bertemu dengannya. Nafila. Bagitulah saya mengetahui namanya di facebook. Meskipun saya berteman bahkan saya menginvet pin BB, tetap saja saya tak berani. Untuk menyapa saja rasanya tangan seperti bergetar apalagi menggombal. Saya tidak bisa membuat seperti itu. Mending tidak usah saja. Berbeda jika berhadapan dengan orang lain yang baru kenal, sepertinya biasa saja. Apa karena saya mengistimewakannya? Entahlah.


Suatu malam, di sudut kota. Langit penuh dengan bintang yang bergelantungan, lalu lalang kendaraan semakin ramai, meskipun angin tidak berhembus dengan kencang, tapi membuat cuaca malam ini agak begitu dingin. Seperti itu yang saya rasakan. 
Ia berdiri di pinggir jalan, padahal saya juga kenal sama teman akrabnya. Tapi saya tidak mau repot minta ini-itu, intinya tidak meminta bantuan bagaimana saya bisa lebih dekat. Saya tidak mau merepotkan. Saya mengikuti alur, biarlah waktu yang mempertemukan. Jika saya tidak ditakdirkan kenal lebih dekat, itu pun juga tidak apa-apa. Sebab saya tidak berjuang keras, jadi itu resiko yang harus diterima.
Dia memiliki sorot mata yang tajam. Ia masih memainkan HP-nya sembari menunggu teman yang sibuk urusan dengan mantannya. Saya hanya mengamati dari jauh bersama perasaan yang juga jauh. Bagaimana ya jika dia jadi pacar saya? Sesekali pertanyaan itu muncul. Gimana mau jadi pacar, kenalan saja sudah takut. Saya harus mulai dari mana? Duuhhhhh. Biarlah malam ini saya menyerah. Saya kalah. Selanjutnya saya ingin mengembalikan HP yang kebetulan waktu itu pinjam sama temennya, buat motret suasan malam itu. Saat itu teman saya tidak ada, jadi HP-nya aku titip ke dia.
“Aku titip HP temenmu ya.”
Ia pun mengambil. Saya tidak tahu harus bicara apa. Saya pun pergi. Lalu mengamatinya dari jauh. Pada akhirnya malam itu saya berpisah.
###
Sepertinya waktu masih menginginkan saya berjumpa dengan Nafila. Suatu malam yang sendu, tak ada bulan, bintang tertutup dengan awan. Sabtu malam yang menyenangkan. Sebab beberapa hari sebelumnya saya disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Hari ini lebih tenang. 
Ketika itu ia bersama sahabat saya. Ia mengenakan kerudung hitam. Seperti malam sebelumnya. Saya hanya bisa mencuri pandang. Tak ada keberanian. Saya pengecut. 
Saya menyukainya. Kadang saya berpikir keesokan harinya apa bisa berjumpa lagi? Kadang ketika di rumah saya masih kepikiran. Mencari cara bagaimana saya bisa akrab dengannya. Saya serahkan semuanya sama waktu. Biarlah rasa ini saya simpan. Andai saja.....


Sumber Foto www.katamutiaracinta.com

Redaksi

Seseorang yang kebetulan dilahirkan di Situbondo pada suatu senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar